background

Selasa, 22 Oktober 2013

Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !

Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali



Senantiasa
Ku mencoba tuk s’lalu ada
Saat kau menangisi duka
Atau saat berbagi tawa
Senantiasa
Tak pernah cukup mudah
Namun hasrat membuatku bisa
Tentangmu adalah asa

Senantiasa
Kuhindari menorehkan luka
Membuatmu s’lalu bahagia
Kemarin, kini dan sepanjang masa

Hujan Sore Itu
Ingatkah kau sore itu?
Gerimis berirama kemudian jadi hujan yang merajam bumi

Mengguyur seperti bandang yang datang dari surga
Cipratannya menggelitik dan genit
Lalu kita jadi penonton tak tahu malu
Tak mampu menahan diri
Seperti bocah di toko permen
 
Ingatkah kau hujan itu?
Istimewa seperti pasar malam yang penuh atraksi
Kita basah sampai ke tulang
Namun dingin tak buat kita biru, apalagi kelu
Baru kali itu kupercaya dunia penuh keajaiban
Air tumpah dari ember raksasa yang tak kasat mata
Kita berputar-putar dan menari diiringi irama hujan
 
Ingatkah kau bagaimana kita tertawa?
Lepas tak terbebani dosa apalagi usia
Hingga air penuhi mulut dan hidung
Kita rentangkan tangan dan dongakkan kepala
Menutup mata dan nikmati ritme yang manjakan indra
Kemewahan yang dibayar dengan influenza
Tak seberapa karena kutahu rasanya jadi merdeka dan bahagia